Kamis, 06 Maret 2014

Psikologi Pendidikan





Pengertian
Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang mengkhususkan diri pada pemahaman tentang proses belajar dan mengajar dalam lingkungan pendidikan.
Manfaat Psikologi Pendidikan
1.      Untuk mengetahui cara penyelenggaraan pendidikan dengan baik.
2.      Memahami Perbedaan Individu (Peserta Didik)
3.      Pemilihan Strategi dan Metode Pembelajaran
4.      Memberikan Bimbingan Kepada Peserta Didik
5.      Penciptaan Suasana Belajar yang Kondusif di Dalam Kelas

Latar Belakang Historis
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka yang muncul di awal sejarah psikologi pendidikan.


Tokoh pertama adalah William james. Tak lama setelah meluncurkan buku ajar psikologinya yang pertama, Principles Of Psychology (1890), willima James (1842-1910) memberikan serangkai kuliah yang berjatuk “Talks to teachers” (1899/1993). Dalam kuliah ini dia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi dilaboratorium seringkali tidak bisa menjelakan kepada kita bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar dikelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di ats tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.


John Dewey, tokoh kedua yang berperan besar dalam membentuk psikologi pendidian adalah John dewey (1859-1952). Dia menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Dewey membangun laburatorium psikologi pendidikan pertama di AS, di universitas Chicago, pada tahun 1894. Kemudian, di columbia University, dia melanjutkan karya inovatifnya tersebut. Kita banyak mendapat ide penting dari john dewey  (Glassman, 2001, 2002). Pertama, dari dewey kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner). Sebelum Dewey mengemukakan pandangan ini ada keyakinan bahwa anak anak menstinya dudk diam di kursi mereka dan mendengarkan pelajaran secara pasif dan sopan. Sebaliknya, dewey percaya bahwa anak anak akan belajar jadi lebih baik jika mereka aktif. Kedua, dari dewey kita mendapatkan ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak anak seharusnya tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia diluar sekolah. Dia secara khusus berpendapat bahwa anak anak harus belajar agar mampu memecahkan masalah secara reflektif. Ketiga, dari dewey kita mendapat gagasan bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Cita cita demokratis ini pada masa pertangahan abad ke-19 belum muncul, sebab saat itu pendidikan hanya diberikan pada sebagian kecil anak, terutama anak keluarga kaya. Dewey adalah salah seorang psikolog yang sangat berperangaruh - seorang pendidik yang mendukung pendidikan yang layak bagi semua anak, lelaki maupun perempuan, dari semua lapisan sosial-ekonomi dan etnis.


E.L. Thorndike, perintis ketiga adalah E.L. thorndike (1874-1949), yang memberi banyak perhatian pada penilaian dan pengukuran dasar dasar  belajar secara ilmiah. Thorndike berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah (beatty, 1998). Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran (O’donnel & levin, 2001).
Mengajar: Antara Seni dan Ilmu Pengetahuan
Memahami Perbedaan Individu (Peserta Didik)
Bidang psikologi pendidikan banyak mengambil sumber dari teori dan risetpsikologi yang lebih luas. Misalnya, teori Jean Piaget dan Lev Vygotsky tidak diciptakan dalam rangka memberi informasi kepada guru-guru tentang cara mendidik anak. Psikologi pendidikan juga banyak memanfaatkan teori dan riset yang disusun dan dilakukan langsung oleh ahli psikologi pendidikan, dan dari pengalaman praktis para guru. Misalnya “Motivasi, Mengajar dan Pembelajaran”.
Sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi pendidikan adalah memberi anda pengetahuan riset yang dapat secara efektif diaplikasikan untuk situasi belajar.
Cara mengajar yang efektif
1.      Pengetahuan dan keahlian professional
2.      Penguasaan materi pembelajaran
3.      Strategi pembelajaran
4.      Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional
5.      Keahlian manajemen kelas
6.      Keahlian motivasional
7.      Keahlian motivasi
8.      Keahlian teknologi
9.      Komitmen dan motivasi
Metode Penelitian:
1.       Deskriptif
·         Observasi
Sepanjang waktu kita melihat banyak hal. Akan tetapi, melihat dua murud berinteraksi adalah berbeda dengan melihat atau mengobservasi secara ilmiah. Observasi dapat dilakukan di labolatorium atau dilingkungan alam. Dalam observasi alamiah (naturalistic), perilaku diamati di dunia riil. Sedangkan, observasi partisipan adalah observasi dimana peneliti terlibat aktif sebagai partisipan dalam suatu aktifitas atau tempat tertentu.
·         Wawancara
Ahli psikologi pendidikanmenggunakan wawancara dan kuesioner untuk mencari tahu tentang pengalaman, keyakinan, dan perasaan guru dan murid. Kebanyakan wawancara dilakukan secara tatap muka, meskipun dapat juga dilakukan dengan cara, seperti telepon atau internet. Sedangkan kuesioner diberikan kepada individu dalam bentuk tertulis. Tetapi bisa juga dilakukan dengan cara lain, seperti secara langsung, melalui surat atau internet. Tetapi, wawancara dan survey bukannya tanpa kekurangan. Salah satu keterbatasan metode ini adalah banyak individu yang memberikan jawaban yang sesuia dengan situasi social, yakni memberikan jawaban yang dapat diterima dan diinginkan secara social, bukan memberitahu pendapat atau perasaan mereka.
·         Tes standar
Tes ini menilai sikap atau keahlian murid dalam domain yang berbeda-beda. Tes ini juga mempunyai banyak tujuan, antara lain memberikan pengukuran untuk studi riset, informasi yang membantu psikolog dan pendidik untuk membuat keputusan tentang seorang murid, dan membandingkan prestasi murid antarsekolah, antarkota, dan antarnegara.
·         Studi etnografi
Studi ini adalah deskripsi mendalam dan interprestasi terhadap perilaku dalam suatu etnis atau kelompok kultural. Peneliti terlibat langsung dengan sasaran yang diteliti. Tipe studi ini menggunakan observasi di setting alam dan wawancara. Tujuannya adalah mengkaji sejauh mana sekolah-sekolah melakukan reformasi pendidikan untuk mahasiswa minoritas.
·         Studi kasus
Studi kasus adalah kajian mendalam terhadap individu. Studi kasus sering dipakai ketika situasi yang unik dalam kehidupan seseorang tidak dapat diduplikasi, entah itu karena alasan praktis maupun etis.
2.       Korelasional
Tujuan riset korelasi adalah mendeskripsikan kekuatan hubungan Antara dua atau lebih kejadian atau karakteristik.
3.       Eksperimental
Riset eksperimental adalah satu-satunya metode yang andal untuk menentukan hubungan sebab dan akibat. Eksperimen menggunakan paling tidak satu variable independen (bebas) dan satu variable dependen (bergantung). Dalam eksperimen, variable independen terdiri dari pengalaman-pengalaman yang berbeda yang diberikan kepada satu atau lebih kelompok yang pengalamannya dimanipulasi. Kelompok eksperimental adalah sebuah kelompok yang pengalamannya dimanipulasi. Kelompok control adalah kelompok pembanding yang diperlakukan seperti kelompok eksperimental, kecuali dalam hal factor yang dimanipulasi. Prinsip penting lainnya dari riseteksperimental adalah penetapan acak (random assignment): peneliti menentukan partisipan masuk ke kelompok eksperimental dan kelompok control secara acak.

1 komentar: