Selasa, 18 Maret 2014

THE BEST SISTER



THE BEST SISTER
 


Dia adalah saudaraku. Kami beda dua tahun. Secara fisik kami sangat berbeda.Bahkan, wajah kami pun tidak mirip sama sekali. Sampai-sampai banyak orang mengira kami tidak ada hubungan darah. Mulai dari teman-teman dan guru-guru di sekolah. Pokoknya semua orang yang mengenal kami.
          Sebenarnya dia adalah adikku. Namanya Gaul. Sedangkan aku sendiri bernama Geum Jandi. Diantara sekian banyak perbedaan diantara kami, ada juga persamaan yang sangat menonjol. Misalnya,sama-sama suka menonton tv, memasak, membaca dan menyanyi.
          “Kak Jandi, lagi ngapain?”tiba-tiba suara Gaul membuyarkan fikiranku.
          Aku segera menoleh dan tersenyum kepadanya sambil menutup buku yang kubaca barusan.
          “Lagi baca komic”, ujarku singkat.
          Gaul duduk di tempat tidur dan mengambil komic itu.
          “Wah…… ini komic yang baru kakak beli kan? Aku mau pinjam dong….”, pintanya dengan suara manja dan sok manis seperti biasanya.
          “Kayaknya komicku yang semalam belum dibalikin deh”, nada suaraku berubah menjadi sindiran. Soalnya terus terang saja,aku kesal dengan cara Gaul memperlakukan buku-buku yang dipinjamnya dariku.Pasti ada yang hilanglah, lecet, sampul depannya robek, dan seribu macam alasan yang bikin aku geregetan deh.
          “Please…………… aku pinjem yah? Aku janji bakalan aku balikin deh,” rayunya.
          Aku menggeleng kuat-kuat,”Nggak ah,janjimu palsu!” ujarku bermaksud menggodanya.
          Eh, tanpa disangka-sangka, dia langsung berbalik dan beranjak dari tempat tidur sambil menjulurkan lidahnya,” Weekkkkk……………….dasar pelit!”  dan ia pun langsung lari keluar kamar karena takut ku kejar.
*****
          “Jandi, Gaul kemana?” Tanya mama saat makan siang.
          Aku menggeleng,”Nggak tahu.Mungkin ada di kamarnya,,mam!” ujarku seperlunya.
“Panggil sana, ajak dia makan!”
          “Ah… paling-paling dia lagi tidur mam.”
Biarin aja, kalau laper dia juga bakalan turun untuk makan.
          Kamar Gaul memang ada di lantai dua. Aku masih ingat, saat berebut kamar dengannya. Mama dan Papa membuat dua kamar untuk kami masing-masing. Yang satu ada di atas dan yang satu ada di bawah. Aku jelas memilih yang di atas. Alasannya yang pasti, agar aku lebih leluasa untuk mendapatkan suasana yang tenang untuk belajar.
          Tapi, Gaul merengek ingin kamar yang di atas, katanya supaya bisa tidur nyenyak, nyetel radio keras-keras, dan bisa  curi-curi pandang ke arah tetangga kami yang lumayan ganteng.
          Duh………… bener-bener alasan yang nggak masuk akal bangat deh!
          Dan tentu saja ini sangat mengesalkan. Bukannya mendapatkan ketenangan Gaul justru membuat ribut dengan menyetel radio  keras-keras dengan volume habis yang alamak………………. bikin kuping hampir tuli!
Belum lagi kalau ia mengajak teman-temannya ya ampun…..!
Suara jeritannya mengalahkan orang  histeris nonton film horror.
          Yang bikin aku tambah pusiing, kamar Gaul tepat di atas kamarku. Bayangkan betapa stresnya aku!
*****
          “Kok aku nggak dibangunin?”tanyanya padaku dengan nada agak kesal sambil menguap.Kelihatan sekali ia baru bangun dari tidur panjangnya bak putri tidur yang kemalaman. Karena saat ini hari memang sudah agak gelap. Kesimpulannya, dia tidur dari siang hingga menjelang malam.
          Aku menutup buku sejarah yang sedang ku baca. Karena bicara dengan Gaul harus dengan penuh perhatian.Kalau tidak, dia akan terus mencolek lenganku agar pandanganku kepadanya.
          “Kenapa aku tidak dibabngunin?” tanyanya lagi.
          Karena kamu tidurnya kayak kebo, jawabku dengan muka tanpa dosa.              
          Gaul langsung pasang tampang cemberut.
“Enak aja”. Bukannya Kak Jandi ya yang tidurnya kayak vampire yang tidur dalam peti. Meskipun ada gajah ambruk,Kak Jandi pasti nggak bangun,kan?
          Yeee………… dia balasku lagi, pikirku rada bête.
          “Mama juga ikut-ikutan nggak bangunin aku lagi, dan sekarang juga nggak ada.Memang mama kemana?”
          “Ini kan hari minggu mama arisan.”
“Tadinya, mama mau bangunin kamu, tapi aku nggak bolehin”.
Tuh kan bener dugaanku!
Karena kesel Gaul langsung mengacak-acak rambutku dengan gemes.
“Ihhhhhh……… nyebelin!”
“Namun aku tau,ia melakukan ini hanya becanda”. Tiba-tiba ia mengoceh lagi.
“Ke mall yuk!” ajaknya tiba-tiba.
Hah? Ke mall?
‘Nggak ah…… besok aku ada ulangan sejarah”.
“Yaaahhhh……….payah!” Gaul langsung manyun.
“Ayolah bentar aja”……………… rayunya.
          Dan beberapa saat kemudian.
TIIIIDDDDAAAKKKKKKKKKKKKKKKKK!
kenapa aku jadi rapi dan bersiap untuk pergi begini?????
Sesaat kemudian kami langsung mengelilingi mall sambil gandengan dan ketawa bersama, layaknya orang yang baru bebas dari pingitan orang tuanya.
Upppsss…………… kami lupa menitipkan kunci kepada tetangga, karena mama belum pulang arisan saat kami pergi.
“Baju ini cocok untuk kakak”, ujar Gaul sambil menempelkan ke badanku seolah ingin mencocokkannya.
“Aku nggak cocok pakai warna pink”. Warnanya terlalu menyala.
“Apanya yang terlalu menyala kakak jadi tambah manis pakai baju warna pink.”
Sudah ku duga ia langsung membelinya dan dugaanku satu lagi benar, kami dimarahi mama. Setelah mendapat ceramah dari mama dan papa kami langsung menuju kamar masing-masing.
Aku juga belum mengulang membaca buku pelajaran untuk ulangan besok. Dalam hati aku menyalahkan Gaul.
*****
          “Kak Jandi!”
          Terdengar suara sumbang dari belakang,dan ternyata itu Gaul.
          “Apa?” tanyaku galak “Aku mau……………”
          “Mau apa?” aku kembali bertanya dengan galak.
          Gaul tidak jadi bicara dan keluar dari kamarku sambil membanting pintu. Karena jengkel melihat pintuku dibanting aku langsung teriak” gara-gara kamu aku jadi nggak bisa jawab ujian sejarah kemarin. Semua tanggalnya ketuker. Kamu tau kan pelajaran sejarah itu susah. Aku jadi nyesel kenapa ikut kamu.
          “Aku juga sebel,kamu kalo minjam komic pasti nggak pernah baik dalam keadaan semula. Ada yang ilanglah, robek lah!” lanjut dengan suara yang makin meninggi.”
          Yah aku terlalu marah kepadanya seolah mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatiku untuknya.
          Aku menangis dalam kamarku. Aku juga nggak tahu kenapa aku jadi begini.
          Tok… tok……… terdengar ketukan di pintu kamarku.
          “Siapa?” tanyaku dengan galak.
          “Jandi, ini mama.”
          Mendengar itu aku langsung membuka pintu setelah sebelumnya mengusap air mataku.
          Mama hanya tersenyum dan membelai rambutku.
          “Mama tahu kamu kesel banget sama Gaul. Tapi, kamu harus maklum…… dia kan adikmu.
Kamu tetap harus sayang sama dia. Sebenarnya tadi dia mau kasih ini sama kamu, mama mengulurkan secarik kertas kepadaku.
          Aku langsung membacanya dan ternyata itu tanda bukti pendaftaran untuk mengikuti ajang pencarian bakat. Kenapa Gaul bisa tahu kalau aku menginginkannya?
          “Gaul tahu karena dia pernah membacanya dibuku harianmu. Dan dia punya inisiatif buat kirim formulir atas nama kamu.”
          Perlahan butir-butir air mata kembali membasahi pipiku dan berubah menjadi air mata penyesalan dan haru, saat mengingat bagaimana kebaikan Gaul selama ini.
          Meski kadang dia menyebalkan, tapi sebenarnya dia sangat perhatian dan menjadi teman curhat terbaikku.
          Dan satu hal yang sepertinya aku lupakan selama ini……………
Dia benar-benar THE BEST SISTER.



THE END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar