Jumat, 06 Juni 2014

MOTIVASI

Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran
MENGEKSPLORASI MOTIVASI
Apa Motivasi Itu?
Motivasi  adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivas adalah perilaku yang penuh energy, terarah dan bertahan lama.
Contohnya: Lance Amstrong adalah pembalap sepeda yang hebat tetapi kemudian ia di diaknosa mengidap kanker pada tahun 1996. Peluang kesembuhannya kira-kira kurang dari 50% saat pembalap sepeda itu mengikuti kemoterapi dan emosinya memburuk. Akan tetapi Lance pulih dari penyakitnya itu dan bertekat memenangkan lomba Tour de France sejauh kurang dari 2.000 mil, sebuah lomba sepeda paling bergengsi di dunia. Hari demi hari lance berlatih keras, terus bertekat memenangkan lomba itu. Lance kemudian berhasil memenangkan lomba balp Tour de Farnce bukan hanya sekali, tetapi empat kali.
Perspektif tentang Motivasi
Perspektif Behavioral.  Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam motivasi murid. Insentif  adalah peristiwa atau stimuli positif atau negative yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung pengggunaan intensif menekankan bahwa intensif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan erhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat (Emmer, dkk.,2000).
Insentif yang dipakai guru dalam kelas antara lain nilai yang baik, yang memberikan indikasi tentang kualitas pekerjaan murid, dan tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Misalnya memamerkan karya mereka, memberikan sertifikat prestasi, atau mengumumkan prestasi mereka.
Perspektif Humanistis. Perspektif humanistis menekankan pada lapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individu harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut.
·         Fisiologis: lapar, haus, tidur
·         Keamanan(safety): bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan
·         Cinta dan rasa memiliki: keamanan(security), kasih sayang, dan perhatian dari orang lain
·         Harga diri: menghargai diri sendiri
·         Aktualisasi diri: realisasi potensi diri
Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan sulit dalam hierarki Maslow. Diberi perhatian khusus. Menurut Maslow, aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi.
Perspektif kognitif. Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif (Pintrich & Schunk, 2002). Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka, dan keyakinan merekan bahwa merekan dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif.
Perspektif kognitif berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan. Perspektif kognitif merekomendasikan agar murid diberi agak banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk hasil prestasi mereka sendiri.
Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W/ White (1959), yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi,  yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien. White mengatakan orang melakukan hal tersebut bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena orang punya motivasi internal untuk bernteraksi dengan lingkungan secara efektif.
Perspektif Sosial.
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan  adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Misalnya, murid yang mempunyai hubungan yang penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sikap akademik yang positif dan lebih senang bersekolah (Baker, 1999: Stipek, 2002). Dalam studi kasus berskala luas, salah satu factor terpenting dalam motovasi dan prestasi murid adalah persepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersikap positif atau tidak (McCombs, 2001: McCombs & Quiat, 2001). Dalam studi lain, nilai matematika menigkat dikalangan muris sekolah menengah apabila mereka mempunyai guru yang mereka anggap sangat suportif(Eccles, 1993).
MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi Ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian agar dapat nilai yang bagus. Sedangkan Motivasi Intrinsikadalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri. Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian itu karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan.
Untuk melihat kenapa ini bisa terjadi, mari kita lihat dua jenis motivasi intrinsik: (1) determinasi diri dan pilihan personal (2) pengalaman optimal
Determinasi Diri Dan Pilihan Personal. dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsic dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggungjawab personal atas pembelajaran mereka (Grolnick dkk., 2002; Stipek, 1996, 2002).
Pengalaman Optimal. Csikszentmihalyi menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Dia menemukan bahwa pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan aktivitas. Flow paling mungkin terjadi di area dimana murid ditentang dan menganggap diri mereka punya keahlian yang tinggi.
Imbalan Ekstrinsik dan Motivasi Ekstrinsik. Dalam sebuah studi, murid yang tertarik dengan seni dan tidak tahu akan ada imbalan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggambar ketimbang dengan murid yang juga menyukai seni tapi mengetahui aka nada imbalan/ hadiah (Lapper, Greene, & Nisbettr, 1973).
Akan tetap, hadiah dikelas dapat berguna. Dua kegunaanyya adalah: (1) sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas (2) mengandung informasi tentang penguasaan keahlian. Poin penting disini adalah bahwa bukan imbalan itu sndiri yang menyebabkan efek, tetapi tawaran atau ekspektasi atas imbalan itulah yang memberikan efek (Schunk, 2001). Imbalan yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid disebabkan imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri untuk menjadi pandai.
Pergeseran Depelopmental Dalam Motivasi Ekstrinsik Dan Intrinsik. Banyak psikolog dan pendidik percaya adalah penting bagi murid untuk mengembangkan internalisasi dan motivasi intrinsic yang lebih besar saat mereka tumbuh. Akan tetapi periset menemukan bahwa murid pindah dari SD ke sekolah menengah, motivasi intrinsic mereka menurun. Itu disebabkan karena praktik kenaikan kelas memperkuat orientasi motivasi eksternal. Artinya, saat murid bertambah usia, mereka terkungkung dalam penekanan pada tujuan naik kelas dan karenanya motivasi internalnya turun.
Jacquelynne Eccles dan rekannya mengidentifikasi beberapa perubahan spesifik dalam konteks sekolah yang dapat membantu menjelaskan penurunan motivasi intrinsic. Murid sekolah menengah lebih impersonal, lebih formal, lebih evaluatif, dan lebih kompetitif ketimbanga anak SD. Murid membandingkan diri mereka dengan murid lain karena mereka dinilai berdasarkan kinerja relative mereka dalam mengerjakan tugas-tugas dan ujian standar. Eccles dan rekan-rekannya mengajukan konsep personal- environment fit( kesesuaian orang- lingkungan). Mereka berpendapat bahwa kurangnya kesesuaian antaralingkungan SMP/ SMA dan kebutuhan remaja muda menyebabkan evaluasi diri negative dan sikap negative terhadap sekolah.
Walaupun belum banyak riset tentang masa transisi ke SMA, riset yang sudah ada menunjukkan bahwa, seperti transisi ke SMP, transisi ini bisa menimbulkan problem yang serupa(Eccles, Wigfield, & Schiefele, 1998; Wehlage, 1989). SMA sering kali lebih besar dan lebih birokratis ketimbang SMP. Di sekolah semacam ini, sense of community- nya biasanya melemah, dimana murid dan guru tidak banyak kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain secara lebih dekat. Akibatnya, ketidakpercayaan Antara murid dan guru mudah timbul dan ada sedikkit komunikasi mengenai tuuan murid. Konteks semacam ini dapatmelemahkan motivasi murid yang tidak bagus secara akademik.
Proses Kognitif Lainnya
Atribusi. Teori Atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil. Beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab kesuksesan atau kegagalan adalah kemampuan, usaha, tingkat kesulitan dan kemudahan tugas/ soal, kebeuntungan, suasana hati, dan bantuan atau rintangan dari orang lain.
Bernard Weiner(1989, 1992) mengidentifikasi tiga dimensi atribusi kausal: (1) lokus, apakah sebab itu bersifat eksternal atau internal bagi si actor; (2) kemampuan, sejauh mana sebab-sebab itu tetap tak bisa diubah atau dapat diubah; (3) daya control, sejauh mana individu dapat mengontrol sebab tersebut. Misalnya, murid mungkin memandang sikapnya sebagai muncul dari dirinya sendiri, stabil dan tak dapat dikontrol. Murid itu juga mungkin menganggapkesempatan atau keberuntungan sebagai sesuatu yan berada di dalam dirinya dan tidak dapat dikontrol.
Motivasi untuk menguasai. Yang berhubungan erat dengan ide tentang motivasi intrinsic dan atribusi adalah konsep motivasi penguasaan(mastery motivation). Para periset menyebut bahwa penguasaan ini sebagai salah satu dari tiga tipe orientasi prestasi: penguasaan, tak berdaya, dan kinerja. Carol Dweck dan rekannya telah menemukan bahwa anak menunjukkan dua respons berbeda terhadap tantangan atau situasi yang sulit: orientasi untuk menguasai(mastery orientation) atau orientasi tak berdaya(helpless). Anak dengan orientasi untuk menguasai akan focus pada tugas ketimbang pada kemampuan merekaa, punya sikap positif(menikmati tantangan), dan menciptakan strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka. Murid yang berorientasi penuasaan ini sering kali menyuruh diri mereka untuk memerhatikan, berfiir, cermat, dan mengingat staregi yang sukses di masa lalu. Sebaliknya, anak dengan orientasi tak berdaya berfokus pada ketidakmampuan personal mereka, seringkali mereka mengatributkan kesulitan mereka pada kurangnya kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif(termasuk kejemuan dan kecemasan). Orientasi ini melemahkan kinerja mereka.
Orientasi untuk menguasai juga bisa dipertentangkan dengan orientasi kinerja, yang berarti lebih memerhatikan hasil ketimbang proses. Bagi murid yang berorientasi kinerja atau prestasi, kemenangan atau keberhasilan itu penting dan kebahagiaan dianggap sebagai hasil dari kemenangan atau keberhasilan.
Self- efficacy. Self efficacy(kecakapan diri) adalah keyakinan bahwa seseorang dapat mneguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Bandura percaya bahwa kecakapan diri dalah factor penting yang mempengaruhi prestasi murid. Schunk berpendapat bahwa kecakapan diri mempengaruhi pemilihan tugas oleh murid, dan bahwa murid  dengan kecakapan diri yang rendah mungkin akan menghindari tugas pembelajaran, terutama yang menantang dan sulit. Sedangkan murid dengan kecakapan diri yang tinggi akan mengerjakan tugas seperti itu.
Self efficacy anda mungkin akan berpengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran murid anda. Guru dengan self efficacy rendah mungkin akan merasa kebingungan menghadapi masalah dalam kelas, tidak ada rasa percaya diri dalam kemampuan mereka dalam mengelola kelas, menjadi stress dan marah pada perilaku murid yang tidak tepat,dll.
Kecemasan dan Prestasi
Kecemasan(anxiety) adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan menyenangkan. Beberapa perisetmenemukan bahwa banyak murid sukses punya kecemasan leve moderat. Tetapi ada beberapa murid dengan tingkat kecemasan tinggi yang mengganggu kemampuan mereka untuk meraih prestasi. Beberapa anak mempunyai kecemasan yang tinggi karena orang tua nya membebankan standar prestasi yang tidak realis pada diri anak mereka.
Ekspektasi Guru
Motivasi dan kinerja murid mungkin dipengaruhi oleh ekspektasi guru. Guru sering kali punya ekspektasi lebih positif untuk murid berkemampuan tinggi ketimbang murid berkemampuan rendah. Misalnya, guru menyuruh murid berkemampuan tinggi untuk lebih giat belajar, lebih sering memuji mereka,dll.
MOTIVASI, HUBUNGAN DAN KONTEKS SOSIOKULTURAL
Motif Sosial
Motif sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dikenal melalui pengalaman dan pengalaman sosial. Perhatian terhadap motif sosial muncul daari katalog kebutuhan yang disusun Henry Murray(1938), yang mencakup kebutuhan akan afiliasi atau keterhubungan, yakni motif untuk merasa cukup terhubung dengan orang lain.
Beberapa murid suka dikelilingi banyak kawan. Di SMP dan SMA, beberapa murid ada yang merasa hilang dari kehidupannya jika tidak ada pacar. Murid lainnya tidak punya kebutuhan afiliasi sekuat itu.
Hubungan Sosial
Orang tua. Telah dilakukan riset tentang hubungan parenting dengan motivasi murid. Studi tersebut mengkaji karakteristik demokrafis, praktik pengasuhan anak, dan provisi pengalaman spesifik di rumahnya.
            Karakteristik demokrafis. Orang tua dengan pendidikan yang lebih tinggi akan lebi mungkin percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak adalah penting. Ketika waktu dan energy orang tua lebih banyak dihabiskan untuk orang lain ketimbang anaknya, motivasi anak mungkin akan meurun drastis. prestasi murid dapat menurun apabila mereka tinggal dalam keluarga single parent, tinggal dengan orang tua yang waktunya dihabiskan untuk bekerja, dan tinggal dalam keluarga besar.
            Praktik pengasuhan anak.
Berikut ini adalah praktik parenting positif yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi:
·         mengenal betul anak dan memberi tantangan dan dukungan dalam kadar yang tepat
·         memberikan iklim emosional yang positif, yang memotivasi anak untuk menginternalisasikan nilai dan tujuan orang tua
·         menjadi model perilaku yang memberi motivasi: bekerja keras dan gigih dalammenghadapi tantangan
Provisi pengalaman positif di rumah. Membacakan buku untuk anak prasekolah dan memberi materi bacaan di rumah akanmemberi efek positif pada prestasi dan motivasi membaca anak(Wigield & asher, 1984).
Teman sebaya. Teman sebaya dapat mempengaruhi motivasi anak melalui perbandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, belajar bersama, dan pengaruk kelompok teman sebaya(Eccles, Wigfield, &Schiefele).
Murid dapat membandingkan dirinya sendiri dengan teman sebaya mereka secara akademik dan sosial. Perbandingan sosial positif biasanya menimbulkan penghargaan diri lebih tinggi, sedangkan perbandingan sosial negative menurunkan penghargaan diri. Murid yang diterima oleh teman sebayanya dan punya keahlian sosial yang baik sering kali lebih bagus belajarnya  di sekolah dan punya motivasi akademik yang positif. Sebaliknya, murid yang ditolak oleh temannya, terutama yang sangat agresif, berisiko mengalami problem belajar, seperti mendapat nilai buruk dan keluar atau dikeluarkan dari sekolah.
Guru. Nel Noddings percaya bahwa murid kemungkinan besar akan berkembang menjadi manusia yang kompeten apabila mereka merasa diperhatikan. Karenanya guru harus mengenal murid dengan baik. Para periset telah menemukan bahwa murid yang merasa punya guru yang suportif dan perhatian akan lebih termotivasi untuk belajar ketimbang murid yang merasa punya guru yang tidak suportif dan kurang perhatian.
Guru dan orang tua. Peran penting orang tua dalam perkembangan murid dan strategi yang dapat digunakan guru untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka.
Konteks Sosiokultural
Status sosioekonomi dan etnisitas. Guru harus mengenali dan menghargai diversitas di dalam kelompok kultural dan harus membedakan pengaruh status sosioekonomi dengan pengaruh etnis. Biasanya kualita sekolah untuk murid miskin lebih rendah ketimbang murid kelas menengah ke atas.
Gender. Perbedaan gender dalam prestasi berkaitan dengan keyakinan dan nilai. Perhatian utama adalah perbedaan gender dalam interaksi guru-murid, kurikulum da nisi, pelecehan seksual, dan bias gender.
MURID BERPRESTASI RENDAH DAN SULIT DIDEKATI
Murid yang Tidak Bersemangat
Murid jenis ini mencakup: (1) murid berprestasi rendah dengan kemampuan rendah yang kesulitan untuk mengikuti pelajaran dan punya ekspektasi prestasi yang rendah; (2) murid dengan sindrom kegagalan; (3) murid yang terobsesi untuk melindungi harga dirinya dengan menghindari kegagalan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar